Retorika
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas
Retorika (dari
bahasa
Yunani ῥήτωρ, rhêtôr, orator, teacher) adalah sebuah teknik
pembujuk-rayuan secara persuasi untuk menghasilkan bujukan dengan
melalui karakter pembicara, emosional atau argumen (logo), awalnya
Aristoteles mencetuskan dalam sebuah dialog sebelum The Rhetoric dengan
judul 'Grullos' atau Plato menulis dalam Gorgias, secara umum ialah seni
manipulatif atau teknik
persuasi politik yang bersifat transaksional
dengan menggunakan lambang untuk mengidentifikasi pembicara dengan
pendengar melalui pidato, persuader dan yang dipersuasi saling bekerja
sama dalam merumuskan nilai, keprcayaan dan pengharapan mereka. Ini yang
dikatakan Kenneth Burke (1969) sebagai konsubstansialitas dengan
penggunaan media oral atau tertulis, bagaimanapun, definisi dari
retorika telah berkembang jauh sejak retorika naik sebagai bahan studi
di universitas. Dengan ini, ada perbedaan antara retorika klasik (dengan
definisi yang sudah disebutkan di atas) dan praktik kontemporer dari
retorika yang termasuk analisis atas teks tertulis dan visual.
Dalam doktrin retorika Aristoteles
[1]
terdapat tiga teknis alat persuasi politik yaitu
deliberatif,
forensik
dan
demonstratif.
Retorika
deliberatif memfokuskan diri pada apa yang akan terjadi
dikemudian bila diterapkan sebuah kebijakan saat sekarang.
Retorika
forensik lebih memfokuskan pada sifat yuridis dan berfokus pada
apa yang terjadi pada masa lalu untuk menunjukkan bersalah atau tidak,
pertanggungjawaban atau ganjaran.
Retorika
demonstartif memfokuskan pada
epideiktik,
wacana memuji atau penistaan dengan tujuan memperkuat sifat baik atau
sifat buruk seseorang, lembaga maupun gagasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar